Cahyo, Penderita Lumpuh Layu Yang Haus Perhatian dan Kasih Sayang Kita Semua

|Pewarta: Dewi|

|HUMANITY|Bantul - Usianya memang sudah menginjak remaja 16 tahunan. Namun kondisi fisik dan jiwanya sangat lemah. Sehari hari ia hanya bisa menghabiskan waktunya didalam rumah.

Beralaskan kasur tipis yang sudah usang, setiap hari Cahyo hanya bisa berbaring dan sesekali berguling kesana kemari untuk mengatasi rasa jenuhnya.

Fisik dan mentalnya memang lemah, namun hati nya tetap hidup. Ia merindukan perhatian, belaian dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya.

Sejak usia 5 tahun ia ditinggal dirumah neneknya dan sejak itupula kedua orang tuanya pergi entah kemana.

Tiap kali sang Nenek berjualan keliling, Cahyo "dikunci" didalam rumah dengan kondisi satu kaki terikat demi keamanan dirinya.

Ia hanya bisa makan dan minum disuapi neneknya, begitupula saat buang air kecil dan buang air besar hanya bisa ia lakukan didalam pampers yang selalu dikenakannya.

Sehari hari ia membutuhkan makanan, minuman, serta asupan gizi yang cukup dan pampers. Karena keterbatasan ekonomi, hampir setiap hari  hanya  makan nasi dengan lauk sambal dan kecap saja yang bisa dinikmatinya.

R.Budi Ariyanto Surantono selaku pejuang kemanusiaan mengajak siapa saja untuk peduli dengan nasib Cahyo yang hanya tinggal bersama neneknya dengan penghasilan bersih hanya 15-20 ribu rupiah perhari.

Mereka berdua tinggai disebuah rumah sederhana di Dusun Kedungbuweng RT.007, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta yang tidak jauh dari makam Raja Raja Mataram Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

"Silakan kunjungi Cahyo, ia sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang kita semua. Ada yang datang berkunjung dan menunjukkan kasih sayang saja ia sudah sangat gembira", pungkas Presiden Abah Kanjeng Humanity Care Indonesia ini. (*)