Membangun Kampung Kemanusiaan Dunia Berbasis Budaya Dari Usaha Jualan Madu

HUMANITY | Tak lama lagi akan segera berdiri Panti Asuhan Yatim, Piatu, Dhuafa bersama Kampung Kemanusiaan Dunia "Banyu Mili Humanitarian Village" di Dusun Ngalang-alangsari, Planjan, Saptosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lahan Bukit seluas 3700 m2 yang berjarak 4 km dari pantai selatan Gunungkidul tersebut akan menjadi tempat tinggal, tempat belajar dan tempat perlindungan bagi anak anak yatim, piatu dan anak dhuafa terlantar.

Walaupun berstatus sebagai Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) / Panti Asuhan, Lembaga ini lebih memilih menggunakan nama Kampung Kemanusiaan Dunia dengan harapan bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak anak yang ada didalamnya.

Semua anak yatim, piatu, dhuafa yang tinggal di Kampung Kemanusiaan Banyu Mili  akan diasuh, dididik dan dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang tanpa dipungut biaya. Semua anak wajib sekolah dan akan dibantu agar tidak putus sekolah hingga mencapai jenjang Sarjana.

Menurut Owner & Founder Kampung Kemanusiaan Dunia Banyu Mili Dr.H.C.R.Budi Ariyanto Surantono, S.Kom., LL.M, untuk menopang biaya operasional, pihaknya berdagang madi sebagai sumber penghasilan utama bekerjasama dengan peternak koloni lebah di hutan Pekanbaru, Riau.

Selain berjualan madu, pihaknya juga akan merintis produk lain seperti obat obatan herbal dan perdagangan aneka barang lainnya. Kampung Kemanusiaan Dunia Banyu Mili juga memiliki produk jasa pengurusan legalitas usaha dan legalitas pertanahan juga melayani jasa pendampingan hukum.

Kedepan, dengan memanfaatkan lahan yang ada, Kampung Kemanusiaan Dunia Banyu Mili juga akan merintis usaha peternakan kelinci, kambing dan sapi agar memiliki dana untuk membiayai pendidikan dan kehidupan anak anak yatim, piatu dan dhuafa.

"Kegiatan Kampung Kemanusiaan Dunia Banyu Mili ini kami rintis secara swadaya sendiri dengan amal amal usaha yang kami jalankan. Semoga semua segera Membuatkan hasil agar kami bisa optimal membantu anak anak mempersiapkan masa depannya", pungkas Budi Ariyanto.